Wali Kota Bandung M. Farhan berencana menambah psikolog dan petugas pencegah kekerasan di sekolah. Selain itu, ia sedang mengkaji larangan penggunaan ponsel siswa di sekolah yang dikemukakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Menurut Farhan, penambahan psikolog dan petugas pencegah kekerasan di sekolah merupakan upaya untuk menekan potensi perundungan serta menangani kesehatan mental siswa secara maksimal.
Saat ini hanya ada dua tenaga psikolog yang menangani kesehatan mental anak-anak sekolah. Jumlahnya ingin ditingkatkan hingga empat kali lipat menjadi delapan orang.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, 20 persen anak sekolah mengalami gangguan mental seperti stres dan depresi. Selain itu, 25 persen mengalami obesitas, dan 40 persen remaja putri mengalami anemia saat mulai menstruasi.
Membekali guru BK
“Kami akan menambah jumlah tenaga psikolog dan pekerja pencegah kekerasan di sekolah. Ini penting agar kita bisa melakukan deteksi dini terhadap masalah non-fisik seperti kesehatan mental dan perundungan,” ujar Farhan, Jumat (7/3).
Pemkot Bandung juga akan menerapkan program Training of Trainers (ToT) bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK). Para psikolog akan membekali guru BK dengan kemampuan untuk mendeteksi dini permasalahan mental siswa, sehingga tindakan pencegahan bisa dilakukan lebih awal.
Dalam kesempatan itu, Farhan menyampaikan saat ini sedang mengkaji usulan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait larangan membawa ponsel bagi siswa SD maupun SMP untuk kepentingan membangun karakter anak sekaligus menghindarkan dari kecanduan gadget.
“Pak Gubernur mengusulkan agar anak SD tidak membawa HP ke sekolah dan orang tua tidak menunggu di luar. Kita akan mempertimbangkan bersama dengan berbagai pihak agar keputusan yang diambil benar-benar terbaik untuk anak-anak kita,” ujar Farhan.
Menurut dia, di zaman sekarang, keseimbangan dalam penggunaan teknologi sangat penting. ponsel diperlukan untuk komunikasi, namun di sisi lain, perangkat ini bisa menjadi sumber distraksi yang besar bagi anak-anak.
Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk membuka pikiran dan mengkaji usulan ini dengan bijak. Sebagai alternatif, sekolah-sekolah di Kota Bandung akan mendorong anak-anak untuk lebih banyak berinteraksi sosial dan memainkan permainan tradisional, seperti angklung.
“Kita harus memberi contoh kepada anak-anak. Ini belum keputusan, baru wacana, dan masih akan kita bahas lebih lanjut,” jelasnya.
“Pendidikan karakter itu penting. Kita harus menghitung manfaat dan mudaratnya dengan baik. Dua wacana ini adalah wacana penting dalam menjalankan pendidikan karena pendidikan kita harus berlandaskan pendidikan karakter,” pungkasnya.
Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/wali-kota-bandung-farhan-kaji-larangan-siswa-bawa-ponsel-ke-sekolah-dan-tambah-psikolog-337756-mvk.html?page=2






