Anak Sering Minta Jajan? 6 Cara Cerdas Ubah Permintaannya Jadi Pelajaran Uang

Anak-anak mungkin belum tahu arti kata-kata seperti inflasi, investasi, atau utang konsumtif. Namun, sejak kecil, mereka sudah mulai berurusan dengan uang.

Interaksi ini mencakup banyak hal, seperti meminta uang jajan tambahan, memilih mainan di toko, menabung untuk membeli sesuatu, serta melihat orang tua menggunakan kartu saat belanja. Tanpa disadari, berbagai pengalaman ini menjadi “pelajaran” tentang uang.

Masalahnya, bukan semua materi diajarkan dalam bentuk nasihat lisan. Anak-anak juga belajar dengan melihat cara orang tua mereka membelanjakan uang, menabung, berbicara tentang uang, serta membuat keputusan ketika menghadapi masalah finansial.

Edukasi money parenting dari Eastspring menunjukkan bahwa pengalaman bersama orang tua dalam mengelola keuangan memengaruhi kebiasaan keuangan dan cara seseorang memandang uang. Para responden sering mengingat pengalaman langsung yang mereka alami ketika kecil, terutama mengenai cara mereka mempelajari soal uang.

Maka dari itu, pendidikan keuangan tidak harus ditunda hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Pendidikan ini tidak harus dimulai dengan kata-kata yang sulit dipahami; kebiasaan sehari-hari yang sederhana justru bisa menjadi dasar yang sangat penting.

Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua?

1. Ajarkan Bahwa Uang Memiliki Tujuan

Menabung biasanya jadi pelajaran pertama tentang uang yang diajarkan kepada anak-anak. Namun, sekadar berkata “uangnya ditabung, ya” mungkin belum cukup. Anak-anak juga harus tahu kenapa mereka menyimpan uang tersebut.

2. Bedakan antara “Kebutuhan” dan “Keinginan”

“Ma, aku mau beli ini!”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, situasi seperti ini justru bisa jadi kesempatan untuk memahami soal uang.

Sebaliknya, orang tua tidak langsung melarang atau menyetujui pembelian itu, mereka bisa bertanya, “Menurut kamu, ini termasuk kebutuhan atau keinginan?”

Anak lalu diajak untuk memikirkan alasan di balik keputusannya.

3. Berikan Anak Kesempatan untuk Mengurus Uang Mereka Sendiri

Anak-anak tidak akan tahu cara mengurus uang hanya dengan mendengarkan kata-kata atau penjelasan dari orang tua.

Mereka membutuhkan pengalaman praktik langsung.

Orang tua bisa kasih uang saku sesuai usia anak, lalu biarkan mereka mengurus uang itu sendiri. Misalnya, sebagian uang bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian lagi disimpan untuk tabungan, dan sisanya digunakan membeli barang-barang yang mereka suka.

Tidak apa-apa jika awalnya anak-anak membuat keputusan yang kurang tepat. Melalui pengalaman itu, mereka menyadari bahwa uang yang sudah dihabiskan tidak bisa digunakan untuk hal lain lagi.

Eastspring mencatat bahwa pengalaman langsung merupakan salah satu bentuk pembelajaran finansial yang banyak dialami responden sejak kecil, termasuk melalui uang saku dan rekening tabungan.

Tentu saja, kebebasan ini perlu disesuaikan dengan usia anak. Tujuannya bukan agar anak mengurus uang sendiri sepenuhnya, tapi untuk melatih rasa tanggung jawab secara perlahan.

4. Perkenalkan Konsep Investasi, tetapi Jangan Langsung Bicara Untung

Konsep berinvestasi bisa diajarkan sejak kecil, selama bahasa yang digunakan mudah dan cocok dengan usia anak.

Anak-anak tidak harus mulai dengan belajar cara membaca grafik saham. Mereka bisa mulai dengan memahami bahwa uang dapat disimpan dalam bentuk investasi agar bisa mendapatkan keuntungan di masa depan. Namun, nilai investasi tersebut bisa berubah-ubah, dan setiap instrumen memiliki risiko yang harus diketahui.

Sebagai contoh, saham bisa dijelaskan sebagai cara untuk memiliki bagian kecil dari sebuah perusahaan. Nilainya bisa berubah karena berbagai hal, artinya membeli saham tidak pasti akan mendatangkan untung.

Literasi keuangan bukan hanya tentang mengenal nama-nama produk investasi saja. Memahami risiko dan mampu memilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan serta tingkat risiko seseorang adalah bagian penting dari memiliki kemampuan keuangan yang baik.

Oleh karena itu, jangan hanya memberi pengetahuan tentang investasi kepada anak-anak dengan tujuan agar mereka berpikir bahwa “uang bisa bertambah dengan sendirinya.”

Pesan yang lebih penting adalah: sebelum mengharapkan keuntungan, pahami dulu cara kerja dan risikonya.

5. Ajarkan Konsep Utang Sebelum Anak Punya Akses Kredit

Utang bukan hanya tentang anggapan bahwa “utang itu buruk.”

Anak-anak yang sudah lebih besar bisa diajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan dana atau fasilitas kredit, tetapi harus siap memulangkannya sesuai dengan kesepakatan yang disetujui. Pada beberapa produk, kewajiban tersebut mungkin juga meliputi bunga atau biaya tambahan.

Melalui hal ini, anak-anak bisa memahami bahwa mengambil keputusan untuk meminjam uang harus dipertimbangkan dengan matang.

Hal ini sangat penting karena mereka tumbuh di masa yang memiliki akses yang mudah ke kartu kredit, layanan beli sekarang bayar nanti, pinjaman online, serta berbagai jenis produk keuangan lainnya. Literasi keuangan berarti memahami hal-hal seperti kredit, cara mengurus utang, jenis bunga, serta risiko yang mungkin muncul saat membuat keputusan tentang uang.

Orang tua dapat mengajarkan prinsip sederhana: jangan mengambil utang hanya karena ingin mengikuti tren atau membeli sesuatu yang sebenarnya belum mampu dibayar.

Chubb juga menekankan pentingnya menghindari utang yang tidak perlu dan memahami bagaimana bunga bisa memengaruhi keuangan seseorang.

Anak mungkin belum membutuhkan semua detailnya sekarang. Namun, pemahaman dasar tersebut dapat menjadi “rem” ketika kelak mereka memiliki akses finansial yang jauh lebih besar.

6. Jadikan Rumah Sebagai Tempat Belajar Keuangan yang Pertama

Pendidikan keuangan tidak selalu harus dalam bentuk kelas resmi atau buku.

Faktanya, rumah bisa menjadi tempat utama bagi anak-anak untuk belajar tentang uang.

Libatkan mereka dalam membuat daftar belanja dan menentukan prioritas belanja yang sederhana. Tunjukkan kepada mereka perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Ajari mereka untuk berbagi dan beri kesempatan kepada mereka untuk menabung. Saat usia semakin bertambah, perkenalkan perlahan konsep-konsep seperti pajak, asuransi, dana darurat, dan investasi.

Yang sangat penting juga adalah cara orang tua membicarakan masalah uang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *