Tahukah Anda? Investasi Child Care Tingkatkan Partisipasi Kerja Perempuan! Kemendukbangga Buka Peluang Integrasi TPA Koperasi 3T

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN membuka peluang penting untuk mengintegrasikan Tempat Penitipan Anak (TPA) atau Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) dengan koperasi. Inisiatif ini secara khusus menyasar wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi kemiskinan ekstrem dan mendukung keluarga.

Pelaksana Harian (Plh) Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, Irma Ardiana, di Jakarta pada Senin, 3 November, menyampaikan komitmen. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah daerah (pemda) dalam merangkul para pemangku kepentingan untuk berkolaborasi. Kolaborasi ini bertujuan mengatasi kemiskinan ekstrem melalui Program Tamasya dan koperasi.

Inisiatif ini juga mendorong perusahaan, khususnya yang beroperasi di wilayah timur Indonesia, untuk menyediakan fasilitas Tamasya. Tujuannya adalah memfasilitasi pekerja agar tetap produktif. Sekaligus memastikan anak-anak mendapatkan pengasuhan berkualitas.

Membangun Koperasi Tamasya untuk Wilayah 3T
Kemendukbangga/BKKBN secara aktif menginisiasi pembentukan Koperasi Tamasya. Konsep ini melibatkan integrasi Tempat Penitipan Anak (TPA) atau Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) dengan model koperasi. Tujuannya adalah memberdayakan masyarakat lokal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Irma Ardiana menjelaskan bahwa Koperasi Tamasya akan berbasis pada sumber daya masyarakat setempat. Pendekatan gotong royong menjadi landasan utama dalam operasionalnya. Hal ini diharapkan dapat menciptakan solusi berkelanjutan untuk pengasuhan anak sambil meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Kolaborasi dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sedang dijajaki untuk mewujudkan konsep ini. “Kita sedang inisiasi dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), bagaimana membentuk Koperasi Tamasya yang memang sumber dayanya dari masyarakat setempat, lebih kepada gotong-royong, begitu,” ujar Irma. Integrasi TPA Koperasi 3T ini diharapkan dapat menjadi model efektif untuk mengatasi tantangan kemiskinan ekstrem dan meningkatkan kualitas hidup di daerah-daerah terpencil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *