Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mencatat nilai tukar atau kurs Rupiah menguat ke level Rp16.676 pada penutupan perdagangan sore ini, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.695.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang Rupiah ditutup menguat 19 poin dilevel Rp16.676, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.695,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (9/12).
Adapun yang mempengaruhi penguatan Rupiah di antaranya, ekspektasi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed tetap kuat. Pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang sebesar 87 persen bahwa bank sentral AS akan melonggarkan kebijakan pada 10 Desember, mencerminkan harapan bahwa inflasi yang lebih rendah atau data ketenagakerjaan dapat mendorong langkah tersebut.
Namun, ada kehati-hatian di antara beberapa investor karena sinyal beragam dari para pembuat kebijakan, yang baru-baru ini menggarisbawahi ketidakpastian seputar kekuatan ekonomi AS. Kondisi ini membuka kemungkinan siklus pelonggaran yang lebih bertahap atau tertunda.
“Fokus pasar hari ini pada laporan ketenagakerjaan AS menjelang keputusan suku bunga Fed. Rata-rata empat minggu ADP Employment Change dan JOLTS Job Openings untuk bulan September dan Oktober akan menjadi sorotan utama. Jika hasilnya lebih lemah dari perkiraan, hal ini dapat meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga AS,” jelasnya.
Kemudian, geopolitik di Eropa, di mana Ukraina mengisyaratkan akan mengajukan proposal perdamaian yang direvisi kepada AS setelah perundingan di London antara Presiden Volodymyr Zelenskiy dan para pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris.
Kesepakatan potensial juga dapat menghidupkan kembali aliran minyak Rusia yang lebih leluasa ke pasar global, yang dapat memberikan tekanan lebih lanjut.
Faktor Internal
Sementara itu, yang mempengaruhi penguatan Rupiah yakni Bank Dunia mengingatkan utang luar negeri jangka pendek Indonesia yang kenaikannya sempat ‘mengguncang’ stok utang jangka pendek kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2024, atau di era Presiden Jokowi.
“Berdasarkan laporan Bank Dunia dalam internasional Debt Report 2025, kenaikan utang jangka pendek Indonesia pada 2024, mencapai 29,1 persen,” ujarnya.
Sedangkan nilainya mencapai USD 65,12 miliar, atau setara Rp1.074 triliun (kurs Rp16.500/USD). Tahun sebelumnya, utang luar negeri jangka pendek Indonesia mencapai USD 50,45 miliar (Rp832,4 triliun).
Bank Dunia mencatat, lonjakan kenaikan utang jangka pendek itu dipicu agresivitas penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada periode itu, sebagai instrumen operasi moneter, mempertahankan nilai tukar Rupiah, dan menarik aliran modal asing.
Efek Lonjakan Utang
Efek dari lonjakan utang jangka pendek itu menurut Bank Dunia turut mendorong kenaikan utang luar negeri jangka pendek kawasan Asia Timur dan Pasifik sebesar 12,7 persen menjadi USD 201,7 miliar.
“Hampir setengah dari arus masuk tahun 2024 adalah arus masuk utang jangka pendek ke Indonesia, yang naik menjadi USD 14,3 miliar, dari rata-rata USD 1,6 miliar pada 2022 dan 2023.
Bank Dunia mencatat, pada 2024 total stok utang luar negeri Indonesia adalah sebesar USD 421,05 miliar. Mayoritas berasal dari stok utang luar negeri jangkapanjang USD 347,54 miliar, atau naik dari catatan per 2023 sebesar USD 340,52 miliar.
Sedangkan nilai stok utang luar negeri itu setara dengan 135 persen dari ekspor, dan 31 persen dari pendapatan nasional bruto(gross national income/GNI). Adapun nilai GNI pada 2024 sebesar USD 1.359,44 miliar.






