BANDUNG BARAT, KANALINDONESIA.COM: Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengajak masyarakat untuk kembali menjadikan radio dan televisi sebagai sumber informasi yang kredibel, terverifikasi, dan berlandaskan fakta di tengah derasnya arus informasi digital yang rentan disusupi berita bohong atau hoaks.
Pesan tersebut disampaikan Jeje saat menghadiri peringatan Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) Jawa Barat 2026 di Plaza Mekarsari, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (10/10).
Di hadapan masyarakat dan insan penyiaran yang hadir, Jeje menegaskan bahwa keberadaan media penyiaran konvensional masih memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Harapan kami, seluruh masyarakat bisa terus mendengarkan radio dan menonton televisi. Di tengah maraknya media sosial yang rentan disusupi berita hoaks, kita membutuhkan media yang kredibel, terpercaya, dan menyajikan fakta objektif,” tegas Jeje.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi. Kecepatan penyebaran berita di media sosial tidak serta-merta menjamin kebenaran isi informasi yang beredar.
Karena itu, penguatan literasi media dan keberadaan lembaga penyiaran yang menjalankan ketentuan serta standar jurnalistik menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.
Jeje Kenang Masa Menjadi Anak Band
Di balik pesan mengenai pentingnya media penyiaran, Jeje juga berbagi cerita tentang perjalanan masa lalunya ketika masih aktif bermusik sebagai anak band.
Dari atas panggung, pandangannya tertuju pada deretan mobil siaran milik sejumlah stasiun radio dan televisi yang hadir dalam kegiatan tersebut. Pemandangan itu membangkitkan kenangannya ketika bersama kelompok musiknya berkeliling ke berbagai stasiun penyiaran untuk mempromosikan karya.
“Saat itu, kelompok band kami berkeliling hampir di semua stasiun radio di Jawa Barat. Rasanya rindu juga promo bermusik di radio dan televisi,” ungkapnya.
Kenangan tersebut menjadi salah satu warna dalam penyelenggaraan Harsiarda Jabar 2026 yang tidak hanya berorientasi pada penguatan industri penyiaran, tetapi juga mendekatkan lembaga penyiaran dengan masyarakat.
Kegiatan berlangsung meriah dengan menghadirkan berbagai agenda, mulai dari senam pagi, lomba menggambar bagi anak-anak, hingga hiburan dan kegiatan interaktif bersama insan radio serta televisi.
Sekitar 1.500 warga dilaporkan memadati lokasi acara. Antusiasme tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan penyiaran dapat menjadi ruang pertemuan antara lembaga media dan masyarakat sekaligus sarana edukasi publik.
KPID Jabar Dorong Penguatan Literasi Media
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengatakan perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan bagi keberlangsungan media penyiaran.
Menurut Adiyana, radio dan televisi perlu terus memperkuat kualitas konten serta menjaga kepercayaan publik agar tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
KPID Jawa Barat, lanjutnya, menjalankan pendekatan langsung kepada masyarakat melalui gerakan edukasi bersama lembaga penyiaran.
“Kami melakukan gerakan ‘jemput bola’ turun langsung ke masyarakat bersama lembaga penyiaran, dengan fasilitas dari Bupati Bandung Barat, untuk mengampanyekan kembali gerakan menonton televisi dan mendengarkan radio,” ujar Adiyana.
Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih sumber informasi, memahami karakteristik media, serta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan konten yang belum terverifikasi.
Jeje pun berharap kegiatan literasi media seperti Harsiarda dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak unsur, termasuk media siber dan pelaku ekosistem digital.
Sumber:https://kanalindonesia.com/2026/10/11/harsiarda-jabar-2026-di-bandung-barat-jeje-ismail-tekankan-pentingnya-informasi-berbasis-fakta/












