Bagaimana Menjalani Hobi Tanpa Mengabaikan Keselamatan Anak?

enjadi orang tua bukan berarti harus mengorbankan seluruh waktu untuk diri sendiri. Orang tua tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, menjalani hobi, atau sekadar menikmati waktu luang. Namun, kebutuhan tersebut perlu diimbangi dengan pengasuhan yang terencana agar keselamatan dan kebutuhan anak tetap terpenuhi.

Persoalannya, bagaimana orang tua dapat memiliki waktu pribadi tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap anak?

Mengapa orang tua membutuhkan me time?

Me time merupakan waktu yang digunakan seseorang untuk melakukan kegiatan bagi dirinya sendiri, seperti membaca buku, menonton film, berolahraga, atau menjalankan hobi. Bagi orang tua, waktu pribadi dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas pengasuhan.

Namun, kesempatan untuk menikmati me time tidak selalu sama bagi setiap orang tua. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah ketersediaan dukungan pengasuhan atau support system.

Psikolog anak dan remaja Sani B. Hermawan, S.Psi, mengatakan orang tua tetap dapat meluangkan waktu untuk diri sendiri, tetapi kesempatan tersebut cenderung lebih terbatas apabila tidak memiliki banyak dukungan.

“Orang tua itu sebenarnya masih bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Cuma, kalau support system-nya tidak banyak, peluang orang tua memiliki me time mungkin akan jadi lebih sedikit,” kata Direktur Lembaga Psikologi Daya Insan tersebut dikutip Antara di Jakarta, Selasa (21/10).

Dukungan pengasuhan dapat berasal dari pasangan, kakek dan nenek, saudara, maupun pengasuh yang dapat dipercaya. Kehadiran mereka memungkinkan orang tua membagi tanggung jawab sehingga kebutuhan pribadi dan kebutuhan anak dapat diperhatikan secara bersamaan.

Bagaimana membangun dukungan pengasuhan yang aman?

Memiliki orang yang bersedia membantu mengasuh anak merupakan langkah awal. Namun, orang tua juga perlu memastikan bahwa orang tersebut mampu menjalankan tanggung jawab pengasuhan dengan baik.

Psikolog klinis anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, menekankan pentingnya menyerahkan tanggung jawab pengawasan kepada orang dewasa yang dipercaya, bersedia, dan mampu menjaga anak.

“Pastikan orang yang dititipi memahami bahwa ia sedang bertanggung jawab menjaga anak, bukan sekadar berada di dekatnya,” kata psikolog dari Lembaga Psikologi Universitas Indonesia itu.

Artinya, orang tua perlu memastikan pengasuh memahami kebutuhan anak, mengetahui apa yang harus dilakukan selama orang tua pergi, dan benar-benar memberikan pengawasan. Keberadaan orang dewasa di sekitar anak saja tidak otomatis menjamin keselamatannya.

Orang tua juga sebaiknya menyampaikan dengan jelas kapan mereka akan pergi, siapa yang akan menemani anak, dan kapan mereka diperkirakan kembali. Penjelasan tersebut perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak untuk memahami situasi.

Selain itu, orang tua dianjurkan tidak pergi diam-diam. Setelah kembali, mereka perlu meluangkan waktu untuk berinteraksi kembali dengan anak.

Apa yang bisa dilakukan jika waktu luang terbatas?

Tidak semua orang tua memiliki akses terhadap pengasuh atau anggota keluarga yang dapat membantu. Dalam situasi tersebut, me time dapat dilakukan dengan menyesuaikan kegiatan dan durasi waktu yang tersedia.

Sani menyarankan orang tua memanfaatkan waktu singkat ketika anak tidur untuk melakukan kegiatan yang disukai, seperti membaca, menonton, atau menjalankan hobi lainnya.

Meski demikian, orang tua perlu bersikap realistis. Kebutuhan pengawasan anak berbeda-beda sesuai usia dan kondisinya. Bayi, misalnya, membutuhkan perhatian lebih intensif sehingga waktu luang orang tua mungkin lebih terbatas.

Karena itu, kegiatan pribadi tidak harus selalu dilakukan dalam durasi panjang. Orang tua dapat memulai dari kegiatan sederhana yang memungkinkan mereka beristirahat tanpa mengurangi pengawasan terhadap anak.

Sani juga menyarankan agar anak dikenalkan secara bertahap kepada orang dewasa lain yang aman dan dipercaya. Dengan demikian, anak dapat belajar berinteraksi dengan pengasuh selain orang tuanya.

Proses tersebut tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan anak dan memastikan orang dewasa yang terlibat mampu memberikan pengasuhan yang memadai.

Bagaimana jika orang tua ingin menjalani hobi di luar rumah?

Kegiatan yang mengharuskan orang tua meninggalkan rumah dalam waktu cukup lama membutuhkan persiapan lebih matang. Salah satu contohnya adalah mendaki gunung atau melakukan perjalanan yang memiliki risiko keselamatan tertentu.

Vera mengingatkan orang tua untuk membuat rencana dan target perjalanan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta keselamatan anak apabila anak turut serta dalam kegiatan tersebut.

Sebelum berangkat, orang tua perlu mempertimbangkan apakah kegiatan yang direncanakan sesuai dengan kondisi anak, bagaimana pengawasan akan dilakukan, serta apakah tersedia pengaturan pengasuhan yang aman selama kegiatan berlangsung.

Jika anak tidak ikut dalam kegiatan, orang tua perlu memastikan anak berada dalam pengawasan orang dewasa yang bertanggung jawab. Sebaliknya, jika anak ikut, rencana perjalanan perlu mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan anak, bukan hanya keinginan orang tua.

 

Mengapa keselamatan anak menjadi perhatian?

Pentingnya pengaturan pengasuhan kembali menjadi sorotan di media sosial setelah muncul kasus seorang balita yang terjatuh dan meninggal dunia di sebuah hotel di Samarinda, Kalimantan Timur, ketika orang tuanya sedang sarapan. Kasus lainnya melibatkan seorang anak yang ditinggal sendirian di tenda saat orang tuanya mendaki Gunung Prau, Jawa Tengah.

Kedua peristiwa tersebut memunculkan perhatian terhadap cara orang tua mengatur waktu pribadi dan kegiatan di luar rumah tanpa mengabaikan pengawasan anak.

Kebutuhan orang tua untuk beristirahat atau menjalani hobi merupakan hal yang wajar. Namun, kebutuhan tersebut tidak menghilangkan tanggung jawab untuk memastikan anak berada dalam situasi yang aman.

Me time dan pengasuhan bukanlah dua hal yang harus saling meniadakan. Dengan membangun dukungan pengasuhan, memilih pengasuh yang kompeten, menyesuaikan kegiatan dengan kondisi anak, serta merencanakan setiap aktivitas secara matang, orang tua dapat tetap memiliki waktu untuk diri sendiri sekaligus memenuhi tanggung jawab terhadap anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *