Benarkah Belajar Jam 6.30 Pagi Kurang Efektif? Psikolog Angkat Bicara

Rencana penerapan kebijakan masuk sekolah pukul 06.30 pagi kembali menjadi sorotan publik. Meskipun kebijakan ini disebut bertujuan meningkatkan kedisiplinan dan efisiensi, sejumlah kalangan, terutama psikolog anak, mulai angkat bicara dan mempertanyakan efektivitas serta dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik peserta didik.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga dari Tigagenerasi dan Citra Ardhita Psy Services, Ayoe Sutomo, menegaskan bahwa waktu belajar yang terlalu pagi justru berpotensi mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, serta kemampuan belajar anak dan remaja. Ia menilai bahwa kebijakan ini harus dikaji ulang secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kebutuhan biologis serta psikologis siswa.

“Kalau kita bicara sekolah dimulai pukul 6.30, ini akan sangat terkait dengan kecukupan jam tidur anak dan remaja,” ujar Ayoe Sutomo, yang juga penulis buku Sekolah Untuk Anakku, kepada Health Liputan6.com. Ia menekankan bahwa tidur yang cukup merupakan modal utama bagi proses belajar yang efektif.

Bukan tanpa alasan banyak riset menekankan pentingnya durasi dan kualitas tidur dalam menunjang keberhasilan akademik anak. Ayoe Sutomo menyatakan bahwa kurang tidur kronis dapat secara signifikan mengganggu kemampuan konsentrasi, menurunkan daya ingat, dan membuat emosi menjadi tidak stabil—tiga faktor utama yang sangat menentukan efektivitas belajar.

“Kecukupan jam tidur punya relasi yang kuat dengan kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan mengelola emosi,” jelas Ayoe. Ia mengungkapkan bahwa masuk sekolah terlalu pagi akan memperbesar risiko anak mengalami gangguan tidur secara terus-menerus. Terlebih bagi remaja, yang secara biologis memang memiliki kecenderungan tidur lebih larut akibat perubahan hormonal pada masa pubertas.

“Remaja punya kecenderungan sulit tidur lebih awal. Jika jam sekolah dimulai lebih pagi, maka otomatis jam tidur mereka akan berkurang,” lanjutnya. Ketika hal ini terjadi setiap hari, anak akan datang ke sekolah dalam kondisi mengantuk, lelah, bahkan mudah tersinggung.

Kondisi ini bukan hanya memengaruhi performa akademik, tetapi juga mengganggu interaksi sosial serta kesejahteraan psikologis siswa. Dalam jangka panjang, tekanan semacam ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, bahkan menurunnya motivasi untuk belajar.

“Semua ini berimbas pada prestasi belajar yang menurun,” tambah Ayoe. Menurutnya, belajar bukan hanya soal hadir secara fisik di kelas, tetapi bagaimana anak bisa fokus, berpikir jernih, dan menyerap pelajaran dengan efektif.

Rutinitas Keluarga Terganggu, Beban Mental Orang Tua Meningkat

Tidur Cukup: Fondasi Utama dalam Belajar Efektif

Tak hanya berdampak pada anak, kebijakan masuk sekolah pukul 6.30 pagi juga membawa konsekuensi besar bagi orang tua. Ayoe Sutomo menyoroti bahwa memajukan jam masuk sekolah berarti memajukan seluruh aktivitas pagi di dalam rumah—mulai dari membangunkan anak, menyiapkan sarapan, membuat bekal, hingga mengantar ke sekolah.

“Kalau anak masuk sekolah lebih pagi, urutan bangun tidur, menyiapkan sarapan, bekal, dan antar sekolah harus dimajukan. Ini bukan hanya beban anak, tapi orang rumah juga,” ujarnya.

Rutinitas pagi yang sudah padat kini menjadi lebih terburu-buru dan menegangkan. Akibatnya, orang tua kerap mengalami beban mental atau mental load yang tinggi. Ketika tekanan ini berlangsung setiap hari dan tidak diimbangi dengan pengelolaan stres yang baik, maka potensi konflik dalam rumah tangga meningkat.

“Tension day-to-day bisa meningkat, orang tua capek, penuh tekanan, dan jika tidak diselesaikan dengan baik, potensi konflik keluarga meningkat,” tegas Ayoe. Ia mengingatkan bahwa suasana pagi yang kacau dapat menciptakan efek domino negatif yang berlangsung sepanjang hari, tidak hanya bagi anak, tetapi juga seluruh anggota keluarga.

Keseimbangan dalam rumah tangga sangat penting untuk mendukung anak belajar dengan baik. Jika orang tua sudah kelelahan di pagi hari, maka kualitas interaksi dan dukungan emosional terhadap anak pun akan menurun.

Efektivitas Belajar Bergantung pada Kesiapan Fisik dan Mental

Efektivitas belajar tidak dapat dilepaskan dari kesiapan fisik dan mental siswa. Ayoe Sutomo menegaskan bahwa waktu belajar yang terlalu pagi justru mengabaikan dua hal tersebut. Ia menyatakan bahwa sistem pendidikan seharusnya mendukung kemampuan anak untuk menyerap ilmu secara optimal, bukan memaksakan kedisiplinan dengan mengorbankan keseimbangan biologis anak.

“Modalitas utama proses belajar adalah konsentrasi dan daya ingat, yang sangat bergantung pada tidur cukup. Jangan sampai kebijakan jam masuk sekolah mengorbankan kebutuhan dasar anak,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kebijakan pendidikan idealnya berbasis pada riset ilmiah dan kebutuhan perkembangan anak, bukan hanya pada efisiensi birokrasi atau pencitraan kedisiplinan. Ketika anak-anak datang ke sekolah dalam keadaan lelah dan tidak siap secara mental, maka proses belajar menjadi tidak optimal, bahkan bisa memunculkan perasaan tertekan.

Dalam praktik di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Kanada, sejumlah distrik sekolah telah melakukan perubahan dengan memundurkan jam masuk sekolah ke pukul 08.30 atau bahkan 09.00 pagi. Keputusan ini diambil berdasarkan rekomendasi ahli kesehatan dan psikologi anak, serta hasil riset yang menunjukkan peningkatan prestasi belajar dan penurunan kasus gangguan mental setelah perubahan waktu sekolah diterapkan.

Perlu Pendekatan Holistik dalam Menyusun Kebijakan Pendidikan

Ayoe menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam menyusun kebijakan pendidikan, yakni tidak hanya melihat aspek teknis dan administratif, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis, biologis, dan sosial. Dalam hal ini, jam masuk sekolah merupakan bagian penting yang bisa menentukan apakah proses pendidikan berjalan efektif atau justru menjadi sumber tekanan baru bagi anak-anak.

“Kebijakan pendidikan harus menciptakan kondisi belajar yang optimal dengan memperhatikan keseimbangan antara waktu belajar dan istirahat anak,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa anak-anak dan remaja berada dalam fase perkembangan yang sangat kritis. Ketika kebutuhan dasarnya—seperti tidur, istirahat, dan suasana rumah yang stabil—tidak terpenuhi, maka dampaknya tidak hanya terlihat dalam nilai akademik, tapi juga dalam jangka panjang: kesejahteraan psikologis, motivasi belajar, dan kepercayaan diri anak.

Menurut Ayoe, pemerintah dan lembaga pendidikan harus lebih sensitif terhadap kebutuhan ini. Ketimbang memaksakan kebijakan seragam yang belum tentu sesuai bagi setiap wilayah atau jenjang pendidikan, perlu ada ruang untuk fleksibilitas dan penyesuaian berdasarkan data serta masukan dari para ahli.

 Pendidikan Berkualitas Dimulai dari Anak yang Cukup Tidur

Kebijakan masuk sekolah pukul 6.30 pagi memang terkesan sederhana dan teknis. Namun jika ditelaah lebih dalam, dampaknya sangat kompleks. Dari aspek biologis anak yang belum siap, menurunnya konsentrasi dan prestasi, meningkatnya beban mental keluarga, hingga potensi konflik dalam rumah tangga—semua itu menunjukkan bahwa waktu belajar yang terlalu pagi dapat menjadi kontra-produktif.

Psikolog Ayoe Sutomo secara tegas menyatakan bahwa tidur cukup dan suasana rumah yang mendukung adalah dua fondasi utama dalam proses belajar yang sehat dan efektif. Pendidikan yang berkualitas seharusnya tidak dibangun di atas kelelahan, tekanan, dan keterpaksaan, tetapi atas dasar keseimbangan dan kesiapan anak secara menyeluruh.

Dengan mempertimbangkan masukan dari para ahli, semestinya kebijakan pendidikan ke depan mampu menciptakan ruang yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik secara akademik maupun psikologis. Dan semuanya itu, dimulai dari hal yang sangat mendasar: memastikan anak cukup tidur sebelum belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *