Tak Sekadar Selamatkan Nyawa, Penanganan Stroke Fokus pada Pemulihan Fungsi Tubuh

Keberhasilan dalam penanganan stroke tidak lagi hanya diukur melalui indikator klinis seperti penurunan angka kematian atau efektivitas terapi akut. Terdapat tantangan signifikan yang sering kali terabaikan, yaitu bagaimana kehidupan penyintas setelah mereka selamat.

“Stroke bukan sekadar peristiwa biologis yang berhenti pada keberhasilan menyelamatkan nyawa. Ia adalah pengalaman kehidupan yang menuntut pemulihan makna, martabat, dan keberfungsian manusia secara utuh,” ungkap Profesor I Made Kariasa, Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Keperawatan Neurologi Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI), seperti yang dikutip dari laman UI pada Selasa (7/4).

Beliau menambahkan bahwa meningkatnya kasus stroke di seluruh dunia dan tingginya beban disabilitas jangka panjang menunjukkan bahwa pendekatan yang hanya berfokus pada penyelamatan jiwa tidak lagi cukup sebagai satu-satunya orientasi dalam layanan kesehatan.

Data global memprediksi akan ada peningkatan jumlah kasus stroke hingga tahun 2030. Meskipun angka kematian menurun berkat kemajuan dalam teknologi medis, hal ini justru diikuti oleh meningkatnya jumlah penyintas yang harus hidup dengan berbagai keterbatasan fisik dan sosial.

Di Indonesia, tingginya prevalensi stroke serta faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup menambah urgensi untuk menerapkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Dengan prevalensi mencapai 8,3 persen, stroke menjadi salah satu tantangan utama dalam sistem kesehatan nasional.

Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kurangnya aktivitas fisik, merokok, dan stres menunjukkan bahwa masalah stroke tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga sangat terkait dengan perilaku dan determinan sosial kesehatan.

Pemulihan tidak hanya perlu dilakukan pada aspek fisik saja

Dalam konteks ini, Prof. Made menekankan pentingnya pergeseran dalam keperawatan neurologi dari pendekatan yang terpisah-pisah menuju pendampingan yang kontinu. Pendekatan ini mencakup berbagai tahap, mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Pergeseran ini mengedepankan konsep makna hidup yang krusial, sehingga para penyintas tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi juga dapat menjalani kehidupan yang penuh makna, mandiri, dan bermartabat.

Selain itu, penguatan praktik keperawatan yang berbasis riset dan inovasi menjadi landasan penting dalam perjalanan akademik Prof. Made selama lima tahun terakhir (2020–2025). Penelitian yang dilakukan mencakup pengembangan intervensi untuk self-management, upaya pencegahan kekambuhan, serta kajian mendalam mengenai stigma internal yang dialami oleh penyintas stroke.

Temuan yang diperoleh menunjukkan bahwa stigma internal adalah pengalaman eksistensial yang berpengaruh besar terhadap identitas dan makna hidup penyintas.

Hal ini menegaskan bahwa proses pemulihan tidak hanya harus berfokus pada aspek fisik, tetapi juga perlu memperhatikan dimensi psikososial, harga diri, dan rekonstruksi makna hidup.

Stroke

Dalam upaya inovatif, Prof. Made telah menciptakan Sensor Digital Kariasa (SenDiKa 1.0 & 2.0), yaitu alat non-invasif yang dapat mengukur tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol secara bersamaan.

Alat ini dirancang untuk mendukung deteksi dini serta manajemen mandiri bagi pasien yang telah mengalami stroke. Selanjutnya, fokus utama dalam roadmap risetnya adalah pengembangan model keperawatan neurologi yang berbasis pada makna hidup dan disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia.

Model ini diharapkan dapat menggabungkan intervensi medis dengan pemulihan psikososial, serta memperkuat peran keluarga dan komunitas dalam proses rehabilitasi.

Prof. Made juga mengajak para akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk merenungkan kembali arti dari keberhasilan dalam layanan kesehatan. Temuan yang dihasilkan oleh Prof. Made menegaskan pentingnya arah baru dalam keperawatan neurologi, yaitu bahwa masa depan layanan kesehatan tidak hanya berfokus pada perpanjangan hidup, tetapi juga pada penghormatan terhadap kehidupan itu sendiri.

Dengan pendekatan ini, diharapkan layanan kesehatan dapat lebih holistik dan berkelanjutan, memberikan dampak positif yang lebih mendalam bagi pasien dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *