Puasa Ramadan mengajarkan kita untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu mulai dari fajar hingga matahari terbenam.
Meskipun secara fisik banyak orang mampu menjalani puasa dengan disiplin, namun ironisnya, mengendalikan emosi di media sosial justru menjadi lebih sulit.
Komentar pedas, reaksi spontan, dan perdebatan yang cepat memanas sering kali muncul selama bulan suci ini.
Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa menahan lapar terasa lebih mudah dibandingkan menahan emosi di dunia digital?
Fenomena ini tidak terpisah dari kenyataan yang ada. Menurut laporan Digital 2025 Global Overview Report, masyarakat Indonesia yang berusia 16 tahun ke atas menghabiskan rata-rata waktu 7 jam 22 menit setiap hari di internet.
Ini berarti sebagian besar waktu kita terpapar pada arus informasi, opini, notifikasi, dan konten yang terus-menerus datang. Dalam situasi seperti ini, otak kita bekerja lebih keras.
Psikolog Klinis Rika Ermasari, S.Psi., Psikolog, ACC, menjelaskan bahwa paparan digital yang terus-menerus dapat menyebabkan overstimulasi pada otak.
“Paparan digital yang intens membuat otak mengalami overstimulasi sehingga rentang perhatian menjadi lebih pendek. Akibatnya, kita lebih mudah terdistraksi dan sulit mempertahankan fokus pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang,” ungkap Rika dikutip Liputan6, Senin (2/3/2026).
Dalam kondisi overstimulasi, otak cenderung beroperasi dalam mode reaktif. Setiap hari, kita membuat ratusan keputusan kecil, seperti scroll atau berhenti, klik atau lewatkan, balas atau diam.
Keputusan mikro yang terus menumpuk ini dapat memicu decision fatigue atau kelelahan mental. Saat energi mental menurun, kontrol diri kita pun ikut melemah.
“Paparan digital memperbanyak micro-decisions. Ketika energi menurun, kapasitas mental juga berkurang sehingga keputusan lebih mudah didasari emosi dan menjadi lebih impulsif,” jelas Rika.
Puasa Ramadan menambah tantangan tersendiri dalam hal ini. Perubahan pola makan dan tidur dapat memengaruhi kestabilan energi dan emosi kita. Ketika tubuh lelah atau kurang cairan, sensitivitas terhadap berbagai hal meningkat.
Dalam kondisi ini, satu komentar negatif saja bisa terasa lebih memicu dibandingkan dengan hari-hari biasa.
“Ketika kondisi fisik dan emosional berubah, kita cenderung lebih mudah hanyut oleh emosi di media sosial, baik itu marah, sedih, maupun tergoda oleh promo. Penilaian kita menjadi lebih bias dan memicu perilaku impulsif,” tambahnya.
Di sisi lain, platform digital memang dirancang untuk mempercepat respons. Video pendek, notifikasi yang mencolok, serta sistem like dan komentar instan menciptakan sensasi penghargaan cepat di otak.
Akibatnya, otak menjadi terbiasa dengan kepuasan instan. Saat energi menurun, seperti ketika puasa Ramadan, otak akan memilih respons tercepat dan termudah, yang sering kali berbasis emosi. Padahal, esensi puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan reaksi.
Dalam pendekatan Dialectical Behavior Therapy (DBT), terdapat konsep wise mind, yang merupakan kondisi ketika pikiran rasional dan emosi bekerja seimbang sebelum seseorang bertindak.
Tantangannya adalah, di dunia digital, reaksi seringkali muncul sebelum wise mind sempat aktif. Lantas, apa yang bisa dilakukan?
Menurut Rika, tantangan terbesar masyarakat digital saat ini bukanlah ketidaktahuan mana yang benar, tetapi lebih kepada terlalu cepat bereaksi sebelum wise mind sempat berfungsi.






