Banjir yang menerjang kawasan Kabupaten Bandung sejak Sabtu (11/4) hingga Rabu (15/4) belum juga surut. Sejumlah kecamatan, seperti Dayeuhkolot dan Bojongsoang, masih terendam air.
Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai banjir yang terus berulang di Kabupaten Bandung disebabkan persoalan tata ruang yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Menurut dia, selama ini belum ada penanganan konkret yang bersifat jangka panjang untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Dedi menegaskan, langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi banjir adalah melakukan perubahan tata ruang di wilayah Kabupaten Bandung. Ia menilai persoalan banjir tidak akan selesai jika pola penataan kawasan tetap seperti saat ini.
“Pertama, tata ruang Kabupaten Bandung harus berubah,” kata dia di Gedung Pakuan, Kota Bandung.
Normalisasi Sungai dan Pemulihan Hutan Hulu
Selain pembenahan tata ruang, Dedi juga menekankan pentingnya normalisasi sungai serta perbaikan kondisi kawasan hutan di wilayah hulu. Menurut dia, kondisi hulu sungai sangat berpengaruh terhadap laju aliran air hujan yang kerap menyebabkan banjir di wilayah hilir.
Ia juga menyoroti maraknya alih fungsi lahan yang selama ini terus terjadi. Dedi menyayangkan banyaknya lahan persawahan yang berubah fungsi menjadi kawasan permukiman dan bangunan.
Menurut dia, kondisi tersebut memperburuk daya serap air dan memperbesar risiko banjir.
“Yang keempat, perubahan lahan jangan terus terjadi. Sawah terus dibikin bangunan, perumahan, segala macam,” ucap dia.
Rumah di Bantaran Sungai Harus Direlokasi
Selain itu, Dedi menilai rumah-rumah warga yang berada di bantaran sungai juga perlu direlokasi sebagai bagian dari solusi jangka panjang. Ia menegaskan, seluruh langkah perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Jika tidak, banjir di Kabupaten Bandung akan terus menjadi persoalan tahunan yang tidak pernah benar-benar selesai.
“Kalau tidak dilakukan, itu tidak bersifat jangka panjang, tidak akan pernah beres,” kata dia.








