Gelar sarjana teknik perangkat lunak (software engineering) dari Universitas Stanford dulu dianggap sebagai “tiket emas” menuju kesuksesan instan di Silicon Valley. Namun, realitas pahit kini menghantam para lulusan kampus elit tersebut.
Para mahasiswa elit yang terbiasa menjadi incaran perusahaan kini dikejutkan dengan sepinya tawaran pekerjaan. Menurut para lulusan baru, kecerdasan buatan (AI) telah menurunkan nilai gelar bergengsi mereka secara drastis menjadi sekadar “perunggu”.
Perusahaan Teknologi: “Kami Tak Butuh Junior”
Penyebab utamanya adalah lonjakan kemampuan AI generatif. Saat mahasiswa angkatan ini masih baru masuk kuliah, ChatGPT belum dirilis. Kini, AI mampu menulis coding lebih cepat dan lebih baik daripada kebanyakan manusia pemula.
“Lulusan ilmu komputer Stanford kesulitan menemukan pekerjaan tingkat pemula di merek-merek teknologi terkemuka,” kata Jan Liphardt, profesor madya bioteknik di Universitas Stanford.
“Menurut saya itu gila,” tambahnya, dikutip dari aol.com.
Para bos teknologi pun terang-terangan mengenai efisiensi ini. Amr Awadallah, CEO Vectara, menyatakan bahwa perusahaannya tidak lagi membutuhkan pengembang junior.
“AI sekarang dapat membuat kode lebih baik daripada pengembang junior rata-rata yang lulus dari sekolah-sekolah terbaik di luar sana,” ujar Awadallah.Senada dengan itu, CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan menyebut bahwa 70% hingga 90% kode di perusahaannya kini ditulis oleh AI buatan mereka sendiri.
Kampus Suram dan Angka Lowongan Anjlok
Dampak dari efisiensi AI ini menciptakan suasana suram di kampus-kampus top California. Sebuah studi dari Stanford menunjukkan data yang mengkhawatirkan, lapangan kerja untuk pengembang perangkat lunak pemula (usia 22-25 tahun) telah anjlok hampir 20% sejak akhir 2022.
“Suasana di kampus benar-benar suram, Orang-orang yang sedang mencari pekerjaan sangat stres, dan sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan,” ungkap seorang lulusan ilmu komputer yang enggan disebut namanya, dikutip dari aol.com.
Banyak mahasiswa kini terpaksa memutar otak. Sebagian besar memilih melanjutkan studi ke jenjang Master (S2) demi “membeli waktu” dan memperkuat resume, sementara yang lain menurunkan standar gaji atau mencoba membangun perusahaan rintisan sendiri.
Pergeseran Peran Manusia
Meski demikian, pakar menegaskan bahwa profesi insinyur perangkat lunak belum akan punah, namun perannya bergeser drastis. Manajer kini hanya butuh tim kecil yang terdiri dari insinyur senior terampil untuk mengawasi kerja AI.
“Industri untuk programmer sudah sangat jenuh,” kata Eylul Akgul, lulusan Universitas Loyola Marymount, dikutip dari aol.com.
Tugas manusia kini bergeser dari menulis kode dasar menjadi pengawas (supervisor) yang memeriksa kinerja AI. Universitas pun kini didesak untuk memikirkan kembali kurikulum mereka agar lulusan siap bekerja berdampingan dengan AI, bukan bersaing melawannya.








